Kekhawatiran Kenaikan Inflasi Berpotensi Menekan Laju Penguatan Indeks | EMB 17 Mei 2021 | 01 January 1970
Dear Media,
Indeks pada perdagangan hari ini (11/5/2021) ditutup melemah pada level 5938 (-0.63%) ditransaksikan senilai Rp 9.45 Triliun dengan volume transaksi 14.59 Miliar lembar saham dimana asing melakukan Aksi Jual Bersih Rp -60.24 Miliar pada beberapa saham LQ45 seperti: Net Foreign Sell , BBRI -266(B) , INKP -45.(B) , MDKA -27.(B) , TKIM -24.(B) , PGAS -9.2(B) , PTBA -9.0(B). Adapun sektor yang membebani laju indeks perdagangan kemarin meliputi sektor Basic Materials (-0.956%), Consumer Cyclicals (-0.438%), Financials (-0.318%), Healthcare (-0.947%), Industrials (-2.557%), Infrastructures (-0.073%), Consumer Non-Cyclical (-0.702%), Properties & Real Estate (-1.111%), Technology (-1.236%), dan Transportation & Logistic (-0.37%), kendati ditopang oleh sektor Energy (0.226%) yang mengalami penguatan walaupun belum signifikan.
Pergerakan indeks hari ini cenderung mengalami pelemahan meskipun dari domestik terlihat adanya rilis data ekonomi terkait retail sales yang terlihat membaik dibandingkan dengan sebelumnya yakni -14,6% dari sebelumnya -18,1%. Kemudian hari senin juga telah rilis data terkait IKK (Indeks Keyakinan Konsumen) Indonesia yang terlihat mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan sebelumnya yakni menjadi 101,5, diatas acuan IKK Indonesia yakni level 100. Artinya masyarakat cukup optimis melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 6 bulan kedepan, namun demikian pergerakan indeks terlihat tidak cukup merespon akan adanya rilis dua data indikator ekonomi Indonesia tersebut. Bahkan jika dilihat berdasarkan volume transaksi hari ini juga cenderung terlihat sepi, mengingat memang pekan ini hari perdagangan bursa cukup pendek hanya 2 hari sehingga investor cenderunf wait and see dan kemungkinan akan mulai ramai lagi awal pekan depan dengan beberapa katalis yang perlu diperhatikan yakni dari eksternal terkait data ekonomi US mengenai tingkat Inflasi yang diproyeksikan akan adanya kenaikan dibandingkan dengan sebelumnya dan memicu kekhawatiran pelaku pasar akan adanya taper tantrum dalam waktu dekat ini sehingga kekhawatiran tersebut memicu kenaikan pada Volatility Index (Vix) CBOE di US hingga 27% dilevel 21,33 yang menandakan bahwa tingkat volatilitas di pasar semakin tinggi karena adanya kekhawatiran tersebut. Bahkan jika kita lihat kebelakang pergerakan volatility Index (Vix)CBOE sempat mencapai rekor tertingginya yakni pada tahun lalu dilevel 65,54 ketika lonjakan kasus Covid-19 secara global sedang tinggi-tingginya. Tidak hanya bursa domestik yang terlihat bergerak dizona merah, namun bursa regional dan juga US hingga waktu penutupan bursa domestik sesi 2 ini terlihat bergerak dizona merah.
Untuk pekan depan, market perlu memperhatikan beberapa katalis diantaranya dari domestik akan rilis terkait neraca perdagangan serta Ekspor-Impor bulan April, kemudian ada juga terkait rilis data Car Sales atau penjualan mobil yang di proyeksikan akan tumbuh signifikan dibandingkan dengan sebelumnya karena adanya kebijakan pemerintan terkait PPnBM untuk kendaraan mobil yang sempat dibahas beberapa waktu lalu. Kemudian China akan rilis data terkait penjualan ritel yang diproyeksikan adanya penurunan dibandingkan sebelumnya yakni 24,9% dari 34,2%, dan Loan Prime Rate China. Dan terakhir dari US akan rilis data terkait Initial Jobless Claims secara mingguan.
Sentimen pertama yaitu dari AS yang mana indeks saham acuannya kompak minus. Terjatuhnya harga saham dunia ini dipicu Indeks oleh kekhawatiran investor bahwa inflasi yang tinggi akan segera datang. Tanda-tandanya sudah tampak. Vaksinasi yang masif di banyak negara terutama Amerika Serikat (AS) membuat mobilitas mulai terpantau pulih.
Meskipun recovery-nya gradual , tetapi konsumen sudah mulai mau berbelanja. Ketika masyarakat mulai membeli barang jasa maka permintaan naik dan uang yang tadinya 'nganggur' kini mulai berpindah tangan. Korporasi mulai berusaha meningkatkan produksi dan berekspansi. Roda perekonomian kembali 'muter'. Likuiditas yang berlebih akan terserap. Kenaikan harga komoditas yang menjadi input bagi aktivitas ekonomi seperti minyak mentah, batu bara, harga pangan hingga kayu selanjutnya akan diteruskan ke konsumen.
Kenaikan berbagai barang dan jasa secara luas inilah yang disebut sebagai inflasi. Peningkatan inflasi menjadi fokus para investor. Pasalnya ketika inflasi terjadi apalagi kenaikannya tinggi maka daya beli (purchasing power) suatu mata uang menjadi turun. Imbal hasil dari investasi juga tergerus. Di sisi lain ketika inflasi naik tinggi, maka ada peluang bank sentral akan menarik likuiditas di pasaran atau yang lebih dikenal dengan tapering dan menaikkan suku bunga yang membuat borrowing cost menjadi lebih mahal. Tidak menutup kemungkinan, The Fed siap ambil ancang-ancang untuk hawkish maka dana asing yang singgah di pasar-pasar emerging market seperti Indonesia bisa ditarik berjamaah. Aksi jual aset finansial yang masif hanya akan membuat pasar tertekan.
Risiko lain yang patut dikalkulasi oleh investor adalah perkembangan kasus Covid-19 di dalam negeri. Memang secara angka kasus melandai. Namun masuknya berbagai varian mutan dan adanya fenomena mudik meski dilarang jelas patut untuk diwaspadai. Minggu ini ada gelombang arus balik. Banyak yang khawatir jika masyarakat yang nekad mudik hanya akan menjadi superspreader. Arus mudik dan arus balik ini menjadi momok bagi perekonomian maupun pasar. Inilah salah satu hal yang membuat asing bisa terus-menerus melego aset keuangan dalam negeri.
Perdagangan pekan depan kemungkinan akan lebih ramai dibandingkan dengan pekan ini. Berdasarkan asumsi tersebut kami memproyeksikan indeks pada perdagangan awal pekan depan senin 17/5/2021 diperkirakan akan bergerak konsolidasi pada range pergerakan 5900 - 6000.







