Jelang Rapat FOMC, Market Masih Wait & See | EMB 17 Mar 21 | 01 January 1970
Indeks pada perdagangan kemarin ditutup melemah membentuk pola consolidation ke level 6309. Ditransaksikan dengan volume yang realtif sepi jika dibandingkan dengan rata-rata volume 5 hari pedagangan. Indeks hari ini dibebani oleh sektor Mining (-1,609%), Agriculture (-1,438%), Finance (-0,391%), Consumer (-0,176%), Infrastructure (-0,129%), Basic Industry (-0,122%), Manufacture (-0,111%), Property (-0,026%), kendati ditopang oleh sektor Miscellaneous Industry (0,122%), Trade (0,78%) yang mengalami penguatan walaupun belum signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak konsolidasi pada range pergerakan 6264 - 6360. Krisis pandemi memaksa negara-negara di seluruh dunia untuk mengucurkan stimulus yang dibiayai dari APBN masing-masing. Sumber utamanya tentu saja berasal dari penerbitan surat utang, mengingat pendapatan pajak tertekan karena aktivitas bisnis yang melesu.Dengan peningkatan emisi surat utang pemerintah, maka pasar obligasi di seluruh dunia pun mengalami efek crowding out, di mana melonjaknya pasokan surat utang di pasar berkonsekuensi pada kenaikan kupon agar bisa menarik investor untuk membelinya. Bagi pemerintah, menaikkan kupon SBN tentu bukan hal yang sulit untuk dilakukan, karena bisa diatasi dengan strategi pembiayaan utang jangka panjang. Namun kondisi ini bakal membuat perusahaan swasta enggan menerbitkan surat utang, atau terpaksa menerbitkannya dengan kupon tinggi.Kupon tinggi pada gilirannya memaksa perusahaan mengeluarkan lebih banyak kas per bulannya untuk men-service pembayaran bunga utang. Selain bisa menggerus profitabilitasnya, kenaikan kupon ini juga pada titik tertentu bisa berujung pada kenaikan harga produk barang/jasa ke konsumen. Inilah yang membuat imbal hasil (yield) SBN AS (US Treasury) menjadi sorotan pemodal, terutama di tengah bayang-bayang berkurangnya dukungan bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk memasok likuiditas di pasar ketika ekonomi dinilai sudah pulih. Ketika Federal Reserve (The Fed) mengurangi atau bahkan menghentikan program pembelian obligasi di pasar sekunder-yang dipatok senilai US$ 120 miliar per bulan, maka posisi tawar emiten obligasi bakal kian kecil.Di Indonesia, pasar surat utang pun cenderung mengikuti arah pergerakan US Treasury dengan kenaikan yield. Jika The Fed pada malam nanti mengirimkan sinyal bahwa program quantitave easing mereka direm lajunya, maka volatilitas berpeluang terjadi di pasar emerging market. Kenaikan harga saham yang terjadi belakangan bakal dinilai terlalu mahal karena proyeksi laba emiten (earning per share/EPS) setahun ke depan yang tertekan ketika imbal hasil meningkat sementara tekanan pandemi masih menjadi tantangan bisnis mereka. Oleh karenanya, wajar jika hari ini pelaku pasar memantau arah mana kebijakan The Fed akan dijalankan, dan bagaimana Bank Indonesia (BI) merespons dinamika situasi tersebut melalui bauran kebijakannya. (Source : CNBC Indonesia)







