Minim Katalis? Bagaimana IHSG? | EMB 16 Mar 21 | 01 January 1970
Indeks pada perdagangan kemarin ditutup melemah membentuk pola consolidation ke level 6324.
Ditransaksikan dengan volume yang cukup ramai jika dibandingkan dengan rata-rata volume 5 hari
pedagangan. Indeks hari ini dibebani oleh sektor Basic Industry (-1,253%), Infrastructure (-1,054%), Finance (-0,834%), Mining (-0,763%), Property (-0,542%), Manufacture (-0,529%), Consumer (-0,42%), kendati ditopang oleh sektor Miscellaneous Industry (0,99%), Trade (1,01%), Agriculture (1,012%) yang mengalami penguatan walaupun belum signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak konsolidasi pada range pergerakan 6300 - 6370.
Hari ini, pelaku pasar berada di masa jeda untuk menunggu keputusan bank sentral nasional (Bank Indonesia) dan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang akan menggelar rapat penentuan suku bunga acuan besok. Tidak ada agenda ekonomi yang cukup signifikan di dalam negeri untuk menggerakkan peta psikologi pasar hari ini. Dus, pelaku pasar akan cenderung masuk bursa dengan
memanfaatkan sentimen yang sifatnya sporadis berdasarkan kabar positif emiten atau industri.
Selepas koreksi kemarin, beberapa saham berpeluang berbalik menguat seperti misalnya saham nikel yang hari ini berpeluang diburu dengan memanfaatkan kabar baik dari pasar komoditas, di mana harga nikel naik 1,2% ke US$ 16.200/ton.
Secara fundamental, perekonomian nasional juga masih kuat yang memberikan dasar bagi investasi di aset berisiko seperti saham. Koreksi harga Surat Berharag Negara (SBN) yang terjadi belakangan semestinya dianggap sebagai new normal. Pasalnya, Indonesia bukanlah AS di mana perpindahan dana dari pasar saham ke pasar surat utang berjalan begitu konsisten dalam hubungan yang bersifat antitesis: koreksi harga US Treasury umumnya diikuti reli di Wall Street karena dana yang keluar dari pasar obligasi langsung masuk ke saham.
Dalam hal selisih (spread) imbal hasil-perbedaan imbal hasil obligasi 10 tahun dibandingkan dengan surat utang pemerintah AS, imbal hasil SBN nasional secara umum berada di tingkat menengah. Meski sedikit lebih ketat pada awal tahun, angkanya jauh di bawah angka pada awal 2013 saat gejolak ekonomi terjadi akibat Taper Tantrum, ketika The Fed memangkas pembelian obligasi di pasar yang memicu capital outflow dari pasar negara berkembang. (Source : CNBC Indonesia)







