Yield Treasury Naik Lagi, Bursa US Koreksi, Bagaimana IHSG? | EMB 4 Feb 21 | 01 January 1970
Wall Street yang kembali merosot tentunya memberikan sentimen negatif ke pasar Asia hari ini, termasuk ke IHSG. Apalagi kemerosotan Wall Street terjadi akibat naiknya yield Treasury. Yield Treasury menjadi hantu yang menggentayangi pasar finansial global sejak pekan lalu. Terus menanjaknya yield Treasury yang dilatarbelakangi prospek pemulihan ekonomi dan kenaikan inflasi,
membuat pasar keuangan global kembali dihantui oleh tapering (pengurangan program pembelian aset atau quantitative easing The Fed) yang dapat memicu taper tantrum. Sejalan dengan kenaikan yield Treasury, indeks volatilitas (VIX) juga melesat lebih dari 10% pada perdagangan Rabu kemarin ke 26,67. Indeks ini juga disebut sebagai indeks ketakutan, semakin tinggi nilainya, artinya pasar semakin takut masuk ke aset-aset berisiko. Dalam beberapa hari sebelumnya, saat yield Treasury turun VIX juga menurun. Artinya yield Treasury saat ini menjadi sumber ketakutan utama pelaku pasar. Jika ketakutan tersebut menjalar ke Asia, maka IHSG berisiko tertekan, begitu juga rupiah. SBN juga
akan tertekan akibat kenaikan yield Treasury. Investor maupun para ekonom memperkirakan The Fed akan merubah kebijakannya di bulan ini guna meredam gejolak di pasar
obligasi. Ketua The Fed, Jerome Powell, pada rapat kebijakan moneter 16 - 17 Maret waktu setempat diperkirakan akan mengaktifkan kembali Operation Twist yang pernah dilakukan 10 tahun yang lalu, saat terjadi krisis utang di Eropa. Operation Twist dilakukan dengan menjual obligasi AS tenor pendek dan membeli tenor panjang, sehingga yield obligasi tenor pendek akan naik dan tenor panjang
menurun. Hal tersebut dapat membuat kurva yield melandai. Kebijakan bank sentral guna meredam kenaikan yield obligasi tersebut tentunya menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam beberapa pekan ke depan. Saat The Fed diisukan akan melancarkan Operation Twist, yield Treasury langsung menurun 3 hari beruntun sebelum naik lagi kemarin.Artinya, pasar akan menyambut baik langkah bank sentral dalam menurunkan yield obligasi. (Source : CNBC Indonesia).







