Ekonomi China Melambat, Hati-hati IHSG Rawan Profit Taking? | 19 Oktober 2021 | 01 January 1970
Indeks pada perdagangan kemarin ditutup menguat pada level 6658. Ditransaksikan dengan volume yang relatif ramai jika dibandingkan dengan rata-rata volume 5 hari perdagangan. Indeks ditopang oleh Transportation & Logistic (1.803%), Industrials (1.445%), Basic Materials (1.25%), Financials (1.02%), Consumer Cyclicals (0.326%), Properties & Real Estate (0.325%), Healthcare (0.124%), Technology (0.038%), kendati dibebani oleh sektor Infrastructures (-0.097%), Energy (-0.117%), Consumer Non-Cyclical (-0.14%), yang mengalami pelemahan walaupun belum signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range level support 6600 dan level resistance 6680
Bursa saham AS mengalami rebound pada perdagangan hari Senin karena investor masih bertaruh dan berharap pada kinerja laporan keuangan yang positif dari perusahaan besar. Sebelumnya pada Senin pagi waktu setempat Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka merah menyusul buruknya data pertumbuhan ekonomi China, setelah pekan lalu menguat menyambut rilis kinerja keuangan kuartal III-2021 bank di AS.Pada akhir penutupan perdagangan Senin, S&P 500 tercatat naik 0,3% menjadi 4.486,46. Nasdaq Composite yang diuntungkan dari perbaikan kinerja saham beberapa perusahaan teknologi tercatat naik 0,8% menjadi 15.021,81. Sedangkan Dow Jones Industrial Average menjadi satu-satunya indeks yang mengalami koreksi atau turun 36,15 poin (-0,1%), menjadi 35.258,61.
Sentimen pertama yaitu kemarin rilis pertumbuhan domestik bruto (PDB) China yang terjadi perlambatan pada kuartal-III 2021, akibat dari krisis energi, gangguan pengiriman serta krisis properti yang masih belum terselesaikan. Ekonomi China tumbuh 4,9% pada kuartal-III yang mana di bawah perkirakan dari konsensus pasar yang memperkirakan PDB China tumbuh sebesar 5,2%. Dan pertumbuhan tersebut jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan kaurtal-II yang mencapai 7,9%
Sentimen kedua yaitu masih terkait krisis energi yang juga dirasakan di beberapa negara lainnya seperti India dan wilayah Uni Eropa akibat dari kelangkaan gas. Akibat dari krisis tersebut mengakibatkan beberapa harga energi mengalami kenaikan cukup tajam dikarenakan dari tinggi permintaan di pasar global namun belum didukung dengan supply yang memadai. Meski demikian Indonesia sebagai eksportir terbesar batubarea dunia masih sangat diuntungkan oleh situasi ini.
Selain batu bara, komoditas lain yang juga mengalami reli kenaikan harga sejak awal tahun termasuk CPO dan migas. Terkhusus untuk CPO, sentimen yang masih cenderung postif yaitu India yang memutuskan memangkas pungutan impor CPO dari 24,75% menjadi 8,25%. Bea Impor untuk produk olahan CPO juga diturunkan dari 35,75% menjadi 19,25%.







