Wall Street Terus Menguat, Tahan Sampai Kapan? | 18 Oktober 2021 | 01 January 1970
'Indeks pada perdagangan minggu lalu ditutup menguat pada level 6633. Ditransaksikan dengan volume yang relatif ramai jika dibandingkan dengan rata-rata volume 5 hari perdagangan. Indeks ditopang oleh Properties & Real Estate (0.859%), Basic Materials (0.658%), Infrastructures (0.595%), Financials (0.53%), dan dibebani oleh sektor Energy (-0.038%), Consumer Cyclicals (-0.168%), Industrials (-0.178%), Consumer Non-Cyclical (-0.383%), Technology (-0.435%), Healthcare (-0.465%), Transportation & Logistic (-0.991%) yang mengalami pelemahan walaupun belum signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range level support 6600 dan level resistance 6650
Bursa Saham Wall Street pada pekan lalu kompak ditutup di zona hijau. Dow Jones Industrial Average ditutup naik 382,2 poin atau 1,09% ke level 35.294,76, dan dalam sepekan melonjak 1,58% yang merupakan catat kenaikan terbesar sejak akhir Juni. Sedangkan Nasdaq Composite juga ikut menguat 73,91 poin atau 0,5% menjadi 14.897,34 dan dalam sepekan menguat 2,18%.
Sentimen pertama yaitu kinerja pasar keuangan dalam negeri yang cukup memuaskan. Terlihat dari saham-saham yang memiliki nilai kapitalisasi pasar yang besar mencatatkan total inflow asing mencapai Rp 3,24 triliun dalam sepekan terakhir. Selain dengan adanya aksi borng yang dilakukan oleh asing tersebut membuat nilai tukar rupiah ikut menguat terhadap dolar AS. Kemudian, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca dagang September mencapai US$ 4,37 miliar, jauh di atas perkiraan konsensus yang memperkirakan surplus US$ 3,8 miliar saja.
Sentimen kedua yaitu masih terkait dari perusahaan terbesar China Evergrande. Menurut pejabat bank sentral China (PBoC), krisis utang Evergrande sebagai salah satu pengembang properti terbesar Negeri Panda terhadap industri perbankannya masih 'manageable'. Kepala Pasar Keuangan PBoC, Zou Lan mengatakan bahwa Evergrande perlu untuk meningkatkan penjualan asetnya dan memulai kembali pembangunan proyek. Dalam hal ini pihak berwenang mengatakan akan memberi dukungan finansial. Belum jelas dukungan finansial seperti apa yang akan diberikan. Namun setidaknya munculnya pernyataan resmi dari pejabat China semacam memberi ketenangan untuk pasar.
Sentimen ketiga yaitu kelanjutan krisis energi global seperti di Eropa, China dan India yang masih belum bisa ditangani.Di China, harga gas alam yang naik dan krisis pasokan listrik domestik membuat Negeri Panda memutuskan untuk melakukan negosiasi dengan eksportir gas dari AS guna mengamankan pasokan yang terus menipis. Kemudian di India, stok batu bara yang menipis juga menjadi problematik. BUMN tambang Negeri Bollywood, Coal India memutuskan untuk menghentikan lelang batu bara ke konsumen non-pembangkit listrik. Hal ini tentu akan berdampak negatif bagi industri lain. Harga gas alam dan batu bara memang anjlok pekan ini. Namun dengan kelanjutan krisis energi yang belum bisa diatasi bisa jadi pemicu tingginya volatilitas harga komoditas energi minggu depan.
Sentimen keempat yaitu kembali datang dari India yang dapat memicu kenaikan harga CPO yang sebenarnya juga sudah berada di tren penguatan. Meskipun sudah naik tinggi sepanjang tahun ini, harga CPO diperkirakan akan tetap kuat hingga akhir 2021. India memutuskan untuk memangkas pungutan impor CPO dari 24,75% menjadi 8,25%. Selain CPO, pungutan impor untuk produk olahan CPO juga diturunkan dari 35,75% menjadi 19,25%. Kebijakan tersebut berlaku mulai 14 Oktober 2021 hingga 31 Maret 2022. (Source : CNBC Indonesia)







