Bursa Saham AS Kompak Tutup Di Zona Hijau, Akan IHSG Bertahan Diatas Level 6600? | 15 Oktober 2021 | 01 January 1970
'Indeks pada perdagangan kemarin ditutup menguat pada level 6626. Ditransaksikan dengan volume yang relatif sepi jika dibandingkan dengan rata-rata volume 5 hari perdagangan. Indeks ditopang oleh Technology (4.15%), Basic Materials (2.817%), Consumer Non-Cyclical (1.366%), Financials (1.33%), Properties & Real Estate (1.064%), Consumer Cyclicals (1.058%), Healthcare (0.796%), Infrastructures (0.643%), kendati dibebani oleh sektor Energy (-0.078%), Industrials (-1.236%), Transportation & Logistic (-1.452%) yang mengalami pelemahan walaupun belum signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range level support 6600 dan level resistance 6692.
Bursa saham AS alias Wall Street kompak melesat pada penutupan perdagangan Kamis (14/10/2021) waktu setempat. Indeks S&P 500 naik 1,71% menjadi 4.438,26 mencatatkan lompatan terbesar sejak Maret. Kemudian indeks Dow Jones Industrial melonjak 534,75 poin, atau 1,6%, menjadi 34.912,56. Lalu, Nasdaq Composite terkerek naik 1,73% pada 14.823,43.
Sentimen pertama yaitu terkait krisis energi yang mulai melandai di negara Eropa, India, dan China.Setelah sebelumnya krisis berdampak ke Inggris, kali ini krisis energi mempengaruhi Jerman. Mengutip AFP, pada Kamis (14/10/2021) lima lembaga ekonomi terkemuka negara itu,DIW, Ifo, IfW, IWH, dan RWI, bahkan merevisi perkiraannya untuk pertumbuhan ekonomi Jerman. Hal ini disebabkan oleh kemacetan pada rantai pasokan disertai krisis suplai gas.
Sentimen kedua yaitu rilis data pengeluaran konsumen terbaru saat Departemen Perdagangan AS merilis laporan penjualan ritel di Negeri Paman Sam per September. Konsensus pasar meramal, penjualan ritel AS akan tumbuh negatif 0,2%, dari sebelumnya naik 0,7% secara bulanan di Agustus 2021. Kemudian, akan ada data awal soal sentimen konsumen AS yang akan dirilis Universitas Michigan untuk periode Oktober. Konsensus sepakat bahwa indeks sentimen konsumen AS akan menguat ke 73,1, dari posisi September di 72,8.
Sentimen ketiga yaitu dari dari dalam negeri, Indonesia akan merilis neraca perdagangan September, yang diprediksi bakal berujung pada angka US$ 3,9 miliar, atau melemah dari neraca perdagangan bulan Agustus sebesar US$ 4,7 miliar--yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa.Selain itu, pada hari ini Bank Indonesia (BI) juga akan merilis statistik Utang Luar Negeri (ULN) per Agustus 2021.Sebelumnya, pada 15 September 2021, BI melaporkan ULN Indonesia per akhir Juli 2021 adalah US$ 415,7 miliar. Dengan asumsi US$ 1 setara dengan Rp 14.257 seperti kurs tengah BI pada waktu itu, maka ULN Indonesia adalah Rp 5.926.63 triliun. (source : CNBC Indonesia)







