Mengukur kembali prospek perdamaian perdagangan global usai berakhirnya pertemuan G-7 | EMB 14 Juni 2021 | 01 January 1970
Pergerakan Indeks pada minggu lalu cenderung mengalami pelemahan dibandingkan dengan sebelumnya sesuai dengan proyeksi hari Kamis kemarin, menguat terbatas cenderung melemah. Pelemahan indeks dikarenakan adanya rilis data terkait Inflasi US yang secara tahunan kembali mengalami kenaikan hingga 5% dari 4.2%. Namun, sebenarnya secara bulanan terjadi penurunan 0.7% dari 0.9 masih dibawah satu persen, sehingga seharusnya kekhawatiran investor akan Tapering bisa berkurang, karena angka inflasi US masih cenderung rendah. Kemudian hari ini telah rilis juga data terkait penjualan kendaraan dari China yang tumbuh negatif dibandingkan dengan sebelumnya, yakni sebesar -3.1% dari 8.6%, penurunan yang cukup signifikan, padahal sebelumnya dari sisi inflasi cukup terjadi kenaikan. Penurunan data ini juga cukup mempengaruhi pergerakan IHSG.
Selain dari data diatas, pelemahan dikarenakan adanya agenda pertemuan The fed dan Bank Indonesia yang diagendakan akan bertemu pekan depan yang akan membahas terkait suku bunga acuan. Dan berdasarkan beberapa data ekonomi yang telah rilis beberapa bulan terakhir ini, untuk data Indonesia sendiri itukan secara umum sudah cenderung membaik, namun dilihat dari sisi inflasi yang mana inflasi itukan menandakan bagaimana tingkat daya beli masyarakat pada periode tersebut, disitu terlihat masih cenderung rendah, dan jika kita lihat breakdown dari beberapa data ekonomi lainnya seperti retail sales yang baru saja dirilis itu terlihat bahwa belum meratanya recovery yang terjadi saat ini, baru beberapa sektor yang terlihat mengalami kenaikan disana, seperti makanan dan minuman, kemudian, suku cadang dan otomotif, dan juga pakaian. Untuk beberapa sektor lainnya seperti informasi dan komunikasi itu terlihat masih tumbuh negatif, artinya belum semua sektor membaik sata ini, meksipun secara keseluruhan sudah terlihat membaik. Dengan keadaan demikian, bahwa untuk suku bunga baik suku bunga acuan, lending facility rate ataupun deposite facility rate Bank Indonesia akan cenderung masih menahan suku bunga tersebut di level yang sama seperti sebeumnya. Karena beberapa sektor masih membutuhkan stimulus untuk recovery tersebut. Begitupun dengan yang terjadi di US, jika kita lihat breakdown ketenagakerjaan disana, angka lapangan pekerjaan yang bertambah menandakan bahwa industri tersebut sudah mulai recovery, nah dari sisi lapangan pekerjaan tersebut, terlihat belum semuanya mengalami recovery terutama sektor construction, yang mana lapangan pekerjaan disana masih tumbuh minus. Oleh karenanya Joe Biden juga tengah merencanakan kebijakan mengenai Stimulus Infra struktur yang besarannya hampir 2T, yang saat ini masih dalam tahap diskusi. Dan berdasarkan hal tsb, bahwa The fed diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuannya.
Selain rilis terkait suku bunga acuan, pekan ini akan ada rilis data ekonomi untuk domestik akan ada rilis neraca perdagangan, ekspor, impor, penjualan motor, serta penjualan mobil. Untuk neraca perdagangan menurut konsensus Trading Economics diproyeksikan mengalami kenaikan dari sebelumnya $2.19B menjadi $2.3%, ekspor diproyeksikan meningkat dari 51.94% menjadi 57.49%, kemudian impor dari 29.93% menjadi 65% (proyeksi kenaikan yang cukup signifikan). Dari beberapa data tersebut, apabila benar terjadi kenaikan sesuai proyeksi terutama unutk impor yang kenaikannya cukup signifikan tentu akan menjadi katalis positif bagi indeks. Krena kenaikan impor menandakan bahwa aktivitas ekonomi domestik sudah semakin membaik, orang banyak yang konsumsi dan membeli barang, serta perusahaan-perusahaan juga sudah banyak yang mulai kembali aktif beroperasi sehingga dari sisi impor meningkat karena banyak dibutuhkan.
Selain dari domestik, dari US juga nanti akan rilis terkiat data penjualan eceran secara bulanan yang menjadi salah satu katalis pendorong Indeks pekan ini, data ini diproyeksikan menurut konsensus Trading Economics akan terkontraksi sebesar -0.4% dari sebelumnya 0.0%.







